Surat Kecil Untuk Ibu

Add caption
Ketika masih kecil, aku sangat nyaman sekali dipelukmu. Hangatkanku ketika terasa dingin dengan kasih sayangmu. Tak lelah kau nyanyikan nada-nada indah agar aku bisa tersenyum dari tangis. Kesabaranmu tak henti dalam membimbingku untuk merangkak, untuk berjalan, untuk menggapai tiap impian.
Selalu aku tersenyum melihat mukamu yang penuh keceriaan menatapku, sinar mata yang indah dan senyum yang menghiasi wajahmu. Ingin sekali menyentuhnya, membelai wajahmu yang penuh keindahan itu. Selalu memberikan semangat dari tiap-tiap senyummu…..

Kesedihan datang ketika melihatmu penuh dengan gerutan diwajah. Menandakan terlalu letih kau mengasuhku. Terkadang kau marah-marah ketika aku menangis tak henti, padahal tangisanku karena rindu kasih sayangmu. Disaat kau sedang menikmati tidurmu, aku menangis untuk membangunkanmu. Mungkin aku terlalu egois untuk terus setiap saat kau memperhatikan aku, untuk selalu memberikan segala kasih sayangmu hanya untukku. Setidaknya hanya itu yang aku bisa untuk memberikan isyarat bahwa aku selalu membutuhkanmu.

Sejak saat itu, kasih sayangmu mulai memudar, membias entah kemana.apakah kau beranggapan aku sudah dewasa sehingga kau tak lagi memperhatikanku . . . .  Apa hanya karena aku sudah bisa berjalan sehingga kau tak lagi menuntunku meniti hidup. . . Apa karena aku sudah belajar disekolah sehingga tak lagi menyuapiku dengan nasehat-nasehatmu. Sekarang kau terlalu egois tuk tinggalkan aku sendiri disini. Kau tak tau, disini aku selalu menangis mengharapkan belaianmu kembali, mengharapkan kasih sayang yang kau berikan dulu.

Rasa iri terkadang merasuki jiwa ini ketika melihat mereka bisa tertawa becanda dengan ibu mereka. Bergaul selayaknya sahabat sendiri tanpa ada batas usia dan status dalam keluarga. Tak malu memamerkan kasih sayangnya didepan kebanyakan orang. Sungguh dan sungguh bahagianya mereka. Meskipun demikian aku kan selalu coba mengerti tentang keadaan ini. Walau tak lagi kau menampakkan kasih sayangmu itu, aku tau kau pasti masih menyayangiku. Mungkin kau terasa malu tuk memulainya karena sudah terlalu lama tak membiasakannya kembali. Akupun coba memahami dan terus mengharapkan kembali. Seandainya kau memaksaku untuk memulainya lebih dulu, akupun akan terus belajar bagaimana aku bisa menunjukan pengharapan dan kasih sayang ini kepadamu. . ..

Ibu, aku selalu menyayangimu meskipun kau tak lagi Nampak menyayangiku.. . .
Aku selalu mengharapkan kebahagiaan yang dulu, meskipun sekarang kau hanya sibuk dengan pekerjaanmu.. . .
Kau terlalu indah untuk dilupakan, terlalu susah untuk dihilangkan, tapi terlalu narsis untuk dikagumi hehehe. . . . piss..
 Karena kau selalu ada dalam hidupku. . . ^_^

4 komentar:

  1. Kasih ibu sepanjang massa

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan sepanjang rel kereta..???

      Hapus
  2. abiii.. bsok2 kalo pulang awas kalo gak ketempat ibu yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhmmm... gak tau pulangnya kapan. .

      Hapus